Sunday, 13 November 2016

Sejatinya,,,

Meratap sunyi, menyondong ke aku
Menggeleng karena aku tak paham
Mereka menyuap, merasuk mendoa
Tak elak, dimana aku berpijak
Masih tak ku paham
Aku sangsi, sejatinya

Masa sesunyi, sedalam hati
Terlena, terusik seadanya
Menggaun rasa
Menyodor tak mungkin menolak
Sejatinya, aku ada
Tak tuan, dalam tak dangkal
Aku, sejatinya

Lagi, tak dua, aku juga tak satu
Mati, itu bukan
Sejatinya, diam tak bersoal
Aku diam, kamu diam
Sejatinya, ada dalam keberadaannya
Aku, dia pasti abadi
Sejatinya...

Wednesday, 2 November 2016

Sahabat, Mereka Menyebutnya!!!

Disudut yang gelap aku masih duduk termangu, menatap tawa yang bersimpu di antara bibir yang merona. Malam yang katanya sunyi, tapi malam itu seakan malam yang panjang ditemani segelas teh dan sebungkus rokok. Candaan tak lekang pulang menemani pergumulan yang tiada hari tanpa mencela. Terbahak-bahak menjadi makan malam yang selalu menemani. Ada saja celote yang membuat seisi rumah saling menertawakan. Merekalah sahabat, begitu kita menyebutnya. Tak hanya tawa yang menemani, ketegangan terkadang juga menghampiri. Katanya, itu adalah bumbu persahabatan. Dari sudut lain, mungkin orang-orang mengira kami adalah orang gila, tapi sungguh! kami tidak berakting, karena kebersamaan ini nyata adanya.

Malam berganti pagi, cerutu diantara mereka meledakkan tawa sebagai sarapan pagi dikala itu. Yach...Sahabat, itulah dia yang menemani kebersaman dalam suka dan duka. Marah iya pasti, jengkel tentu ada, ngambek juga biasa. Tapi itulah dia, terpupus karena rasa kebersamaan menjadi perekat. Aku menyebutnya mereka adalah sahabat sejati. Semoga kalian tetap kompak, Sehat selalu!!!


Untukmu yang bahagia selalu, Sahabat Sejati....

Tuesday, 1 November 2016

Hujan Menyertaimu

Yang terkasih...

Malam ini hujan turun lagi, membasahi jiwa yang haus akan kerinduan. Pohon-pohon melambai sekan-akan menegaskan bahwa malam ini kau belum lagi di sisiku. Gemerlap malam menambah asyiknya sebuah penantian, meskipun aku terkadang sangsi atas kehadiranmu. Kesabaran yang kau gambarkan, perlahan mulai redup karena mecinta begitu dalam. Sungguh begitu sakit, beginilah rasanya, rasa yang meluap tapi tak tertuan karena jarak yang tak mungkin diperpendek.

Lagi...lagi, aku masih menunggumu dipenantian yang tak berujung. Aku tegar, engkau juga harus tegar karena kita adalah ketegaran yang satu. Rasa sunyi yang kian mendera, ayatnyalah menjadi penyejuk. Aku,,, hujan ini menyertaimu, kutitipkan doa agar engkau tetap bahagia.

Bahagialah selamanya!!!!!!!

Monday, 31 October 2016

Aku, engkau, dan Penantian Kita

Ketika semua kumbang menyatakan cinta sejatinya pada setiap bunga yang dihinggapinya. Aku tetap dalam kesabaran, menjaga hati, menunggu masa dimana aku dan dirimu sudah ditasbihkan dalam ikatan yang halal. Karena aku tahu bahwa, janji Tuhan itu pasti. Aku yakin, buah kesabaranku akan menemukan tulang rusuk yang hilang. Hari ini kita masih berproses, karena Tuhan sebaik-baiknya yang menghargai proses.

Aku bukannya iri pada mereka yang dengannya ia bisa berbagi rasa. Tapi lagi-lagi aku menyimpan sebuah kejutan untuk engkau, aku dan kita. Aku menepis senja, menyambut fajar. Merangkai permata yang nanti aku bisa persembahkan untuk dirimu yang jauh di sana. Jika tiba masanya, maka aku akan datang, engkau pun akan datang, kita bertemu di atas altar yang sudah dijanjikan. Karena memang Engkaulah kertasnya dan aku tintanya, mari kita sama-sama mengukir alur cerita kita.

Selamat Malam engkau yang di sana!!! Semoga bahagia...!!!!

Saturday, 14 November 2015

Membaca, Menulis adalah Kebutuhan



“Membaca, Menulis adalah Kebutuhan”
By: Anaruddin
Ada yang pernah mengatakan bahwa “jika engkau ingin menggenggam dunia maka perbanyaklah membaca dan jika engkau ingin dikenang maka perbanyaklah menulis”. Ungkapan ini bukan hanya sekedar pesan biasa, akan tetapi mengandung makna yang mendalam. Tanpa membaca seseorang  tidak akan mampu mengembangkan cakrawala berpikirnya. Dipahami bersama bahwa sumber ilmu pengetahuan yang ada saat ini, semuanya berasal dari hasil bacaan. Oleh karena itu, salah satu jalan untuk memahami sebuah ilmu pengetahuan adalah dengan cara membaca. Begitu juga sebaliknya, jika ingin dikenang sepanjang khayatnya, seseorang harus meninggalkan jejak-jejak mereka dalam bentuk tulisan. Sejarah telah membuktikan, Aristoteles dikenang oleh masyarakat luas sebagai bapak logika karena tulisannya, Ibnu Sina dikenang sebagai bapak dokter muslim karena tulisannya, Imam Al-Ghazali dikenang sebagai ulama besar karena tulisannya, dan masih banyak lagi tokoh-tokoh di dunia ini yang meninggalkan rekam jejaknya dalam bentuk tulisan.
Tradisi membaca bukan lagi menjadi barang baru, tetapi ibaratnya telah menjadi bagian terpenting dalam hidup manusia. Seseorang pernah mengungkapkan bahwa membaca adalah termasuk kebutuhan pokok. Seperti halnya kebutuhan makanan, jika tidak terpenuhi maka seseorang akan merasa lapar. Karena perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin maju, seseorang kemudian dituntut bahkan sangat dipaksa untuk membaca literatur demi memperbaharui pengetahuannya.
Muncul kemudian persoalan yang penting untuk dibahas berkaitan dengan daya baca dan tulis masyarakat Indonesia. Ada anggapan bahwa entitas masyarakat Indonesia yang gemar membaca dan pintar menulis sudah mengalami degradasi. Masalah itu, merambah sampai pada anak muda. Hal ini terbukti dari cara berpikir mereka yang menganggap bahwa membaca dan menulis hanya sekadar pengisi waktu luang.
Mahasiswa atau dalam artian sekarang adalah pemuda, dari dahulu hingga sekarang pemuda dikenal sebagai masa depan bangsa. Ditangan pemuda tergenggam wajah-wajah bangsa yang cemerlang. Pemuda adalah agent of change, social of control, dan moral force. Berbeda dengan kondisi sekarang yang mindset mereka digerus oleh perkembangan teknologi yang semakin maju secara pesat. Munculnya banyak fasilitas teknologi menyebabkan mahasiswa semakin manja untuk berpikir. Misalnya, beragam fasilitas jejaring sosial seperti Blackberry messenger, facebook, twitter, line, instagram, path  dan masih banyak lagi. Mereka biasanya lebih lama menghabiskan waktu di depan komputer, dan gadget daripada membaca buku atau bacaan-bacan yang bersifat membangun. Begitu juga para mahasiswa lebih sering menulis status (baca; isi pikiran,posisi) mereka di akun twitter dan facebook (sosial media) daripada menulis hal-hal yang bermanfaat berkaitan dengan keilmuan. Bayangkan ketika status (baca; isi pikiran, posisi) yang sering di-posting ditulis kemudian disatukan dalam satu cerita, bisa saja menjadi sebuah karya sastra. Misalnya, cerita yang disusun dalam bentuk cerpen atau novel. Tapi sayang seribu sayang tulisan tersebut hanya dilampiaskan  diakun jejaring sosial mereka, cerita itu hanya dibiarkan berlalu begitu saja.
Terciptanya lingkungan yang semakin instan, tidak sepatutnya dapat disalahkan oleh mahasiswa. Pada dasarnya, hal ini terjadi karena sistem yang membuatnya seperti itu. Lingkungan belajar yang dibentuk memang telah terbangun sejak mahasiswa duduk dibangku kuliah. Mahasiswa menggampangkan tugas-tugas yang diberikan oleh dosen, karena feedback dari dosen terlihat sangat kurang. Dosen terkadang mengumpulkan tugas mahasiswa tetapi tidak memeriksanya secara detail, kejelasan sumbernya dimana, kebenaran dalam penulisan, dan kesesuaian konten dengan konteks. Selain itu, kurangnya arahan yang jelas dari dosen terkait dengan pentingnya membaca dan menulis. Rutinitas mahasiswa mengumpulkan tugas kuliah hanya sekedar kewajiban bukan kebutuhan. Tugas pun diunduh dari berbagai sumber yang tidak jelas sumbernya, tanpa membaca buku. Copy dan paste seakan-akan menjadi sebuah rutinitas dan tradisi yang telah mendarah daging. Tradisi ini tidak mungkin hilang karena sistem telah melegalkannya. Mahasiswa dibentuk layaknya robot, bukan seorang pemikir dan pencipta. Lahirlah kemudian generasi-generasi muda yang bermental kerupuk.
Lingkungan itu kemudian berdampak pada tugas akhir mahasiwa. Tentu tidak asing lagi dengan istilah “skripsi”. Mahasiswa sering memelesetkannya dengan istilah “krispi”. Tugas akhir ini seperti momok yang menakutkan bagi mahasiswa, mengapa tidak sekali ketemu dengan dosen pembimbing seketika itu juga lembaran demi lembaran disilang sepanjang ukuran kertas. Hal inilah membuat mahasiwa di penjuru Indonesia selalu pesimis ketika diperhadapkan pada tugas akhir. Munculnya dilema seperti ini, tidak lepas karena kurangnya keinginan mahasiswa untuk membaca referensi demi referensi. Kalaupun membaca, mahasiswa lebih suka membaca komik atau bacaan-bacaan yang bergambar. Sehingga, ketika mahasiswa ditugaskan untuk menulis, mereka tidak bisa menguraikan ide-ide yang ada di pikirannya dalam bentuk tulisan karena kurangnya referensi bacaan.
Ketika mental-mental seperti ini masih dipertahankan, lambat laun mahasiswa akan semakin bermental malas. Revolusi mental yang ditawarkan oleh pemerintah tidak akan mampu menjawab tantangan yang dihadapi masyarakat saat ini. Solusi konkret untuk menjawab tantangan itu adalah dengan banyak membaca dan menulis. Sebuah literatur pernah menyebutkan bahwa membaca biografi atau pengalaman-pengalaman orang lain ibaratnya sama dengan melewati pengalaman itu. Artinya, 30 tahun pengalaman itu dijalani oleh orang yang bersangkutan, pembaca kemudian menjalani pengalaman itu hanya dengan 1-2 jam dengan membaca biografi tersebut. Kampanye gemar membaca dan menulis tidak hanya sekedar diorasikan akan tetapi bagaimana pemerintah membuat sebuah sistem agar membaca dan menulis itu menjadi sebuah rutinitas dan kebutuhan masyarakat, khususnya dikalangan pemuda atau mahasiswa. Tak terlepas juga, peran dan sumbangsi orang tua terhadap anak-anaknya. Menanamkan tradisi membaca dan menulis sejak dini merupakan langkah konkret untuk menumbuhkan pikirian-pikiran kreatif tersebut.
Semakin berkembangnya teknologi saat ini tidak bisa dipungkiri. Mengingat teknologi sudah menjadi kebutuhan dan bagian terpenting dalam kehidupan manusia. Hanya menunggu kebijakan dari pemerintah bagaimana menyinergikan antara teknologi dengan ilmu pengetahuan saat ini. Misalnya, yang dulunya bacaan-bacaan hanya dalam bentuk buku, akan tetapi bacaan-bacaan sekarang harus dikemas dalam bentuk elektronik. Begitu juga dengan menulis, dulunya hanya dikertas akan tetapi sekarang sudah banyak media yang bisa dijadikan sebagai wahana menulis. Misalnya, menulis diary atau catatan-catatan harian di facebook, twitter, e-mail, blog atau menulis dalam bentuk e-book.
Zaman bisa berubah, teknologi bisa maju, cara berpikir juga harus berkembang. Teknologi tidak harus dihindari tetapi mesti disinergikan dengan kebutuhan masyarakat. Banyak pemuda atau mahasiswa diluar sana juga berpikir mengenai hal ini, salah satu yang terbaru adalah sekelompok mahasiswa membuka café bacaan. Pada umumnnya, masyarakat hanya mengenal café tempat ngopi dan online, tetapi sekarang sudah mulai muncul café yang dikemas seperti perpustakaan. Segala fasilitas bacaan disiapkan mulai dari bahan bacaan berbentuk buku sampai dengan bacaan yang berbentuk elektronik. Hal ini merupakan cara berpikir inovatif yang dapat menjawab kebutuhan masyarakat.
Kampanye gemar membaca dan menulis sering dilakukan oleh pemerintah, akan tetapi berbanding terbalik dengan fasilitas yang disiapkan. Misalnya, fasilitas buku-buku yang ada diperpustakaan wilayah atau daerah tidak diperbaharaui secara berkala. Sehingga, buku-buku tersebut terlihat jadul dan tertinggal. Ada satu cerita, katanya pernah seseorang masuk ke perpustakaan akan tetapi harus dilarikan ke rumah sakit karena mengalami sesak nafas. Tentu tak lain dan tak bukan, alasan orang tersebut dibawah kerumah sakit karena penyakit asma. Ada hal yang menggelitik dibalik cerita itu bahwa ternyata penyakit asma yang diderita, kambu akibat debu-debu buku yang bertumpuk karena tidak pernah dibersihkan oleh pengelola perpustakaan. Oleh karena itu, apa yang ingin disampaikan dari ilustrasi cerita tersebut adalah bagaimana sebuah wahana bacaan harus dikemas semenarik mungin, bukan sebaliknya mencelakan orang.
Tidak bisa menutup mata bahwa ketersediaan bahan bacaan menjadi nilai tambah untuk menarik perhatian masyarakat khususnya mahasiswa atau pemuda untuk menggeluti dunia membaca dan menulis. Apalagi kondisi sekarang menyebabkan segala sesuatunya serba instan, sikap intropeksi diri sangat dibutuhkan. Mulai sekarang pemuda harus barubah! Bukan dirubah! Tidak harus membaca 12 eksemplar buku dalam sehari, akan tetapi memulai dengan membaca artikel-artikel koran, majalah, online adalah langkah konkret untuk melakukan sebuah perubahan. Menulis status di facebook dan twitter dengan hal-hal yang mencerdaskan juga menjadi langkah awal untuk menggeluti dunia menulis. Memang sangat susah untuk memulainya, tetapi dengan pembiasaan semuanya akan menjadi terbiasa. Oleh karena itu, melalui pembiasaan membaca dan menulis maka nantinya akan tercipta generasi bangsa yang berkualitas dan inovatif.


Makassar, 17 Agustus 2015



"Barru Tanah Pangngadereng"



“Barru Tanah Pangngadereng
By: Anar_Sastra
Ketika engkau menampik jalan panjang
Tak risau kau singga ditanah leluhur kami
Ketika engkau tergeletak dalam gelapnya malam
Tak usah cemas tanah leluhur kami adalah harapan

Tanah kami telah menorehkan sejarah
Tanah kami telah menobatkan rumpun kerajaan
Tanah kami telah mendidik to mappedecengnge, to accae, to waranie, to lempue
Tanah kami lumbung kemakmuran
Hijau ladangnya, putih jiwanya

Empat pilar payung adalah sejarah
Datunna Tanete…
Datunna Berru…
Datunna Balusu…
Datunna Mallusetasi…

Maddeppa ri eppa’e tellang iyanaritu atanrang akkarungenna tanah berru.
Mangngade’ ri padanna
Makkatenne masse ri lempue
Mappe’deceng ri pabbanuae
Mappe’lempu ri tongengng’e


Barru tanah pangngadereng
Taka asing jika engkau memijak
Tak lapar jika engkau meminta
Tak haus jika engkau memohon
Nasaba to berrue mappebaliwi napasau
Mappangngajai namadeceng
Mappalebbangngi nassamaturuki

Barru tanah pangngadereng
Tanah kelahiran …
Tanah dewata …
Tanah asseasijeng …
Tanah siame-ame namadeceng wanuae …
Namalomo naletei pammase dewata…

Di sinilah aku lahir…
Di sinilah aku mati…

Friday, 11 April 2014

Yang Maha Memanggil Sang Maha Guru

“Setiap yang bernyawa pasti akan mengalami kematian” kira-kira seperti itulah fatwa agama yang sering didengunkan oleh para Anregurutta. Mendengar kata mati, apa yang akan terlintas dipikiran manusia? Tentunya mereka akan berpikir mati itu adalah momok yang paling menakutkan dalam kehidupan. Cara berpikir ini didasari pada doktrin agama yang mengatakan bahwa mati itu merupakan sebuah peristiwa luar biasa, karena telah berpisahnya jazad dengan roh. Sehingga, kehidupan dunia akan sirna dengan sekejapnya. Muncul pula anggapan lain yang mengibaratkan kematian sebagai pintu utama dan terutama untuk bertemu seorang hamba dengan khaliknya. Oleh karena itu, dalan kajian tasawuf dikatakan bahwa mati adalah sesuatu yang nikmat, karena bertemu dengan sang khalik itulah kenikmatan tertinggi dalam era kemanusiaan. Terlepas dari anggapan tersebut, satu hal yang perlu dipahami bahwa kematian adalah sesuatu yang pasti, keberadaannya bukan untuk dihindari tetapi bagaimana menghadapi kematian itu sendiri.

Berbicara tentang kematian, dalam narasi ini akan diulas kisah seorang anak manusia yang telah berhasil menjadi khalifah di muka bumi ini. Keberhasilannya menjadi seorang pemimpin bukan hanya dalam bentuk legalitas hitam di atas putih, tetapi terbukti secara nyata dan dirasakan oleh rakyat yang dipimpinnya. Kekhalifaannya sudah tidak diragukan lagi, selama priode kepemimpinannya, lelaki kelahiran 25 Juli 1932 ini telah banyak menorehkan prestasi yang gemilang baik dalam bidang pendidikan maupun bidang politik. Sikap kebijaksanaan yang dimilikinya, lelaki yang terlahir dari Gilireng Kabupaten Wajo ini dipercayakan untuk memimpin Universitas berlogo ayam jantan dari timur. Di bawah tanduk kepemimpinannya, lelaki yang beranak empat ini berhasil membawah Universitas Hasanuddin menjadi universitas bergengsi di Indonesia Timur. Untuk membangun kampus termegah dan terbesar di Kawasan Timur Indonesia itu, Prof. Dr. Ahmad Amiruddin Pabittei melibatkan arsitek dunia Paddock Inc., Massachustts, AS dan dibangun oleh OD 205, Belanda yang bekerjasama dengan PT. Sangkuriang Bandung di atas tanah seluas 220 Hektar. Lelaki yang akrab disapa Amir dengan pemikiran jauh ke depan, memindahkan Kampus Universitas Hasanuddin sekaligus memodernisasi kampus merah itu dari Jalan Sunu dan Jalan Masjid Raya ke kawasan luar Kota Makassar di kawasan Tamalanrea. Sehingga pada tanggal 17 September 1981, kampus seluas 220 hektar diresmikan Presiden Soeharto dalam Dies Natalis ke-25.

Pengabdian lelaki yang menamatkan Sekolah Pasca Sarjananya di Universitas Kentucky dalam bidang sains patut di acunkan jempol, semenjak kampus merah berada di bawah kepemimpinannya, para dosen-dosen didorong untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Sehingga hasil nyata yang terlihat dari kebijakan itu, lahirlah beberapa guru besar lulusan luar negeri. Bukan hanya berhasil melahirkan para akademikus tetapi lelaki yang mendapat penghargaan Satyalancana Wirakarya, berhasil pula melahirkan pemimpin-pemimpin muda dalam bidang pemerintahan. Ada yang menjadi Hakim Agung, Hakim Konstitusi, Anggota DPR, Gubernur, Walikota, Bupati, Kepala Dinas, dan Pemimpin Perusahaan. Disamping itu, Sikap akuntabilitas dan transparansi yang dimiliki oleh lelaki yang pernah menjabat sebagai Direktur Pusat Penelitian BATAN Pasar Jumat ini, dipercayakan memimpin kampus merah selama dua priode (1973-1982). Banyak jasa dan prestasi yang ditorehkan Amiruddin saat memimpin Unhas karena ketegasan, kesederhanaan, dan keteladanan. Dia memindahkam, Rumah Sakit Pendidikan Unhas yang dulunya di RS Dady juga ikut dipindahkan menjadi RSUP Dr Wahidin Sudirohusodo Tamalanrea. Dedikasi yang diberikan oleh lelaki yang pernah menjadi Guru Besar ITB dalam bidang Kimia ini tidak salah, ketika orang-orang disekitarnya memberikan gelar sebagai guru maha guru.

Belum cukup satu tahun setelah habisnya masa priode jabatan sebagai Rektor Universitas Hasanuddin, lelaki yang mendapat gelar Doctor Honoris Causa dari Universitas Kebangsaan Malaysia pada tahun 1976 kemudian maju dan terpilih sebagai Gubernur Sulawesi Selatan. Ketika menjabat sebagai Gubernur Sulawesi Selatan, pembangunan dimulai dari prinsip trilogi pembangunan yaitu Perubahan Pola Pikir, Pengwilayahan Komoditas, dan Petik Olah Jual. Konsep inilah yang membantu masyarakat Sulawesi Selatan sehingga saat krisis moneter ditandai dengan melambungkan nilai kurs dollar terhadap rupiah serta meroketnya harga-harga hasil pertanian menjadikan masyarakat Sulsel justru tidak didera akibat krisis moneter. Sebaliknya menuai hasil pertanian yang memadai.

Di eranya, ia banyak menempatkan akademisi sebagai kepala daerah. Ia seorang pemimpin yang dicintai rakyatnya. Sangat banyak maha karya yang telah dipersembahkan kepada masyarakat. Visi dan karakter kerasnya bahkan mengilhami keberhasilan banyak orang. Setiap kemarahannya mengandung hikmah tersendiri terhadap orang lain. Banyak tokoh Sulsel yang kini berperan vital di pemerintahan pernah merasakan kemarahan sosok yang dijuluki Sang Restorasi ini. Sebut saja, Yusuf Kalla, Syahrul Yasin Limpo, Malkan Amin, hingga Prof Halide yang pernah merasakannya. Pengabdian, dedikasi, dan pelayanan terhadap rakyat Indonesia, sehingga Presiden RI atas nama Rakyat Indonesia memberikan penghargaan Bintang Mahaputra Utama, sebuah pengakuan tertinggi atas pencapaian seorang anggota masyarakat sipil. Sepanjang hayatnya sebagian besar dijadikan sebagai lahan pengabdian untuk umat manusia.

Saat memimpin Sulawesi Selatan, Amiruddin pulalah yang memindahkan Kantor Gubernur Sulawesi Selatan dari Jalan Jenderal A.Yani di pusat kota yang sesak ke Jalan Urip Sumoharjo, di atas bekas pekuburan Tionghoa Makassar. Selain itu, Benteng Somba Opu yang terkubur hamper 300 tahun kembali direstorasi dengan komandan proyek Dr.Mukhlis Paeni. Amiruddin menghajatkan kawasan benteng itu dijadikan sebagai Taman Mini Sulawesi, namun yang terwujud barulah sebagai Taman Mini Sulawesi Selatan. Sejumlah rumah adat dari seluruh kabupaten dan kota dibangun di kawasan benteng tersebut. Namun sayang, seiring dengan perkembangan otonomi dan demokrasi di Indonesia, rumah-rumah yang pernah digagas Amiruddin itu kurang terpelihara.

Lelaki yang senang mengenakan kaos swan putih ini, selain memiliki sikap yang tegas, ia juga toleran terhadap setiap kamu, baik itu laki-laki maupun perempuan. Hal ini terbukti ketika dalam peluncuran buku kiprah Rasdianah di IAIN Makassar, Amiruddin menujukkan sikap demokrasi dan emansipasi ke kaum hawa. Saat Rasdiyanah akan menjabat Rektor wanita di kampus Islam pertama di Indonesia, banyak tokoh yang menentang. Kepemimpinan Andi Rasdiyanah mendapat kontroversi, lelaki yang mendapat penghargaan Satyalancana Pembangunan (Pertanian) yang waktu itu menjabat sebagai gubernur dan mantan rektor harus bersikap dan menetapkan keputusan secara arif. “Bagi saya, pria dan wanita diciptakan Tuhan dengan kodrat dan keistimewaan masing," begitu Prof. Amir memberi testimoni dukungan hingga Prof. Rasdianah menjadi Rektor dua periode dan Sekjen Depag di Jakarta.

Pengabdian, dedikasi, dan pelayanan terhadap rakyat Indonesia, sehingga Presiden RI atas nama Rakyat Indonesia memberikan penghargaan Bintang Mahaputra Utama, sebuah pengakuan tertinggi atas pencapaian seorang anggota masyarakat sipil. Sepanjang hayatnya, lelaki yang bergelar Ph.D ini, sebagian besar dijadikan sebagai lahan pengabdian untuk umat manusia. Sehingga masyarakat Sulawesi Selatan mempercayakannya untuk menjadi Gubernur selama dua priode (1983-1993). Selain jabatan Rektor dan Gubernur yang diembannya, ada banyak jabatan lain yang telah menjadi jenjang karirnya. Di almamaternya, Amiruddin pernah menjabat Asisten Kandidat Kimia Organik dan Fisika,Universitas Indonesia Bandung pada tahun 1958-1963). Sekretaris Bagian Kimia ITB 1961-1962, Asisten Ahli Kimia Anorganik dan Fisika di tempat yang sama antara tahun 1962-1963. Lektor Muda ITB (1962-1963), Lekor dan Lektor Kepala ITB (1963-1967). Ketua Bagian Kimia ITB (1961-1962), Dekan Departemen Kimia Biologi ITB (1965-1966), Kepala Lab Radio Kimia Pusat Reaktor Bandung (1965), Pembantu Khusus Dirjen Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) Pasar Jumat (1965-1970), Tenaga Ahli Diperbantukan kepada Pemerintah Malaysia dalam rangka Pembukaan Universiti Kebangsaan Malaysia (1970-1973), Anggota MPR RI (1977-1980), Deputi Ketua BPPT Bidang Ilmu Dasar dan Terapan, Wakil Ketua MPR RI (1992-1997), Wakil Ketua Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional (BPPN (1998-1997), Komisaris PT Inco Tbk, Komisaris, Komisaris Utama PT Semen Tonasa, Komisaris PT GMTD.

Jatuh bangun, pahit manis, dan asam manisnya kehidupan sudah dilalui oleh lelaki yang beristri dua ini. Apa saja lakon telah ia perankan, baik itu sebagai seorang ilmuwan, akademisi maupun birokrat, semua dijalankan dengan penuh tanggung jawab dan menuai kesuksesan. Akan tetapi, setiap manusia memiliki titik kemasimalan dalam berbuat. Tidak selamanya manusia akan berada dalam kondisi tubuh yang segar bugar, adakalanya kesehatan kian hari akan berkurang. Begitulah yang di alami lelaki yang berumur 81 tahun ini. Pada tanggal 16 Maret 2014 Serangan jantung yang menggorogoti tubuh ahli kimia nuklir ini mengaharuskannya untuk dirawat di RS Awal Bross Makassar. Pada awalnya, tim dokter yang terdiri atas anak didiknya di Universitas Hasanuddin, merencanakan membawa ayah empat anak itu ke Jakarta. Namun mengingat kondisinya yang agak payah, diputuskan untuk melakukan operasi by pass di RSUP Wahidin Sudirohusodo pada tanggal 19 Maret 2014. Empat dokter dari RS Jantung Harapan Kita Jakarta bergabung dalam suatu tim yang berkekuatan 20 orang guna menolong jiwa pendekat ‘’’Tri Konsep Sulawesi Selatan’’ itu.

Namun setelah operasi jantung, kondisi kesehatan peletak dasar ekonomi modern di Sulsel itu sempat membaik, namun sehari kemudian kondisinya terus mengalami penurunan hingga menghembuskan nafas terakhirnya di ruang ICU RS Wahidin sekitar pukul 12.30 pada Jumat 21 Maret 2014 dengan usia menjelang 82 tahun. Tidak bisa dipungkiri bahwa kematian merupakan sesuatu yang pasti, namun kematian tetap saja meninggalkan duka bagi mereka yang ditinggalkan. Setelah sekian lama melawan penyakit pengapuran pembuluh darah jantung, mantan Gubernur Sulsel, Prof. Ahmad Amiruddin dijemput maut. Sosok yang dikenal sederhana dan visioner itu meninggalkan empat anak, masing-masing Amelia Tristiana, Doddy Krisbianto, Irma Herlina, dan Budi Adiseno serta 12 cucu. Rumah duka di Jalan Hertasning Makassar penuh sesak. Sesekali isak tangis terdengar. Sanak keluarga, kerabat, seluruh sahabat hingga masyarakat umum berlomba hadir melepas kepergian sosok panutan ini. Begitu banyak doa yang terkirim ke langit hari itu. Terlihat begitu banyak kalangan yang memadati rumah duka. Ada Yusuf Kalla, M Roem, Ashabul Kahfi, Ilham Arief Sirajuddin, dan Danny Pomanto, Idrus Paturusi, Hamid Paddu, dan Syaruddin Kaseng.

Hadir juga HZB Palaguna, Amin Syam, Appiaty Kamaluddin, Arqam Azikin, Jayadi Nas, Agus Arifin Numang, Aksa Mahmud, dan masih banyak lainnya. Hari itu Sulsel memang tengah berduka. Duka atas kepergiannya memang bukan semata milik keluarga yang ditinggal. Nama baik dan karya almarhum telah menguratkan namanya sebagai putra terbaik yang pernah dimiliki Sulawesi Selatan. Keluarga pun harus ikhlas menjadikan duka mereka sebagai duka bersama. Duka Sulsel. Hal ini membuat keluarga lagi-lagi harus merelakan seluruh prosesi almarhum menuju rumah Tuhan, diambil alih oleh Pemprov Sulsel dan Kodam VII Wirabuana.

Ribuan pelayat bergerak bersama meninggalkan rumah duka menuju Masjid HM Asyik di Jalan Pettarani untuk salat jenazah. Setelah itu, ribuan pelayat yang sama kembali bergerak bersama. Kali ini untuk mengantar jenazah almarhum ke TPU Islam Panaikang. Jarum jam menunjukkan pukul 14.15 Wita ketika dentuman peluru berkali-kali pecah di udara. Kepergian pria kelahiran Wajo itu dilepas dengan pemakaman secara militer. Kecintaan almarhum pada sang istri yang lebih dulu kembali ke rumah Tuhan membuat niat pemerintah dan sejumlah sesepuh di Sulsel yang merekomendasikan almarhun dimakamkan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Panaikang, tak bisa terwujud. Hal ini disebabkan karena adanya wasiat almarhum untuk dimakamkan di dekat kuburan istrinya Hj. Kusudarsini.Akhir kisah almarhum telah dititihkan dalam tulisan yang indah, kisah hariannya sudah sampai pada lembaran terakhir. Selamat jalan sang visioner sejati, masyarakat Sulsel kehilanganmu tetapi Yang Maha lebih membutuhkanmu untuk kembali menghadapnya. Selamat jalan Sang Maha Guru, semoga engkau tenang dikeabadiannya. Amin!!!

 
Makassar, 1 April 2014
Penulis,

Anaruddin