“Setiap yang bernyawa pasti
akan mengalami kematian” kira-kira seperti itulah fatwa agama yang
sering didengunkan oleh para Anregurutta. Mendengar kata mati, apa yang
akan terlintas dipikiran manusia? Tentunya mereka akan berpikir mati itu
adalah momok yang paling menakutkan dalam kehidupan. Cara berpikir ini
didasari pada doktrin agama yang mengatakan bahwa mati itu merupakan
sebuah peristiwa luar biasa, karena telah berpisahnya jazad dengan roh.
Sehingga, kehidupan dunia akan sirna dengan sekejapnya. Muncul pula
anggapan lain yang mengibaratkan kematian sebagai pintu utama dan
terutama untuk bertemu seorang hamba dengan khaliknya. Oleh karena itu,
dalan kajian tasawuf dikatakan bahwa mati adalah sesuatu yang nikmat,
karena bertemu dengan sang khalik itulah kenikmatan tertinggi dalam era
kemanusiaan. Terlepas dari anggapan tersebut, satu hal yang perlu
dipahami bahwa kematian adalah sesuatu yang pasti, keberadaannya bukan
untuk dihindari tetapi bagaimana menghadapi kematian itu sendiri.
Berbicara tentang kematian, dalam narasi ini akan diulas kisah seorang
anak manusia yang telah berhasil menjadi khalifah di muka bumi ini.
Keberhasilannya menjadi seorang pemimpin bukan hanya dalam bentuk
legalitas hitam di atas putih, tetapi terbukti secara nyata dan
dirasakan oleh rakyat yang dipimpinnya. Kekhalifaannya sudah tidak
diragukan lagi, selama priode kepemimpinannya, lelaki kelahiran 25 Juli
1932 ini telah banyak menorehkan prestasi yang gemilang baik dalam
bidang pendidikan maupun bidang politik. Sikap kebijaksanaan yang
dimilikinya, lelaki yang terlahir dari Gilireng Kabupaten Wajo ini
dipercayakan untuk memimpin Universitas berlogo ayam jantan dari timur.
Di bawah tanduk kepemimpinannya, lelaki yang beranak empat ini berhasil
membawah Universitas Hasanuddin menjadi universitas bergengsi di
Indonesia Timur. Untuk membangun kampus termegah dan terbesar di Kawasan
Timur Indonesia itu, Prof. Dr. Ahmad Amiruddin Pabittei melibatkan
arsitek dunia Paddock Inc., Massachustts, AS dan dibangun oleh OD 205,
Belanda yang bekerjasama dengan PT. Sangkuriang Bandung di atas tanah
seluas 220 Hektar. Lelaki yang akrab disapa Amir dengan pemikiran jauh
ke depan, memindahkan Kampus Universitas Hasanuddin sekaligus
memodernisasi kampus merah itu dari Jalan Sunu dan Jalan Masjid Raya ke
kawasan luar Kota Makassar di kawasan Tamalanrea. Sehingga pada tanggal
17 September 1981, kampus seluas 220 hektar diresmikan Presiden Soeharto
dalam Dies Natalis ke-25.
Pengabdian lelaki yang menamatkan Sekolah
Pasca Sarjananya di Universitas Kentucky dalam bidang sains patut di
acunkan jempol, semenjak kampus merah berada di bawah kepemimpinannya,
para dosen-dosen didorong untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri.
Sehingga hasil nyata yang terlihat dari kebijakan itu, lahirlah beberapa
guru besar lulusan luar negeri. Bukan hanya berhasil melahirkan para
akademikus tetapi lelaki yang mendapat penghargaan Satyalancana
Wirakarya, berhasil pula melahirkan pemimpin-pemimpin muda dalam bidang
pemerintahan. Ada yang menjadi Hakim Agung, Hakim Konstitusi, Anggota
DPR, Gubernur, Walikota, Bupati, Kepala Dinas, dan Pemimpin Perusahaan.
Disamping itu, Sikap akuntabilitas dan transparansi yang dimiliki oleh
lelaki yang pernah menjabat sebagai Direktur Pusat Penelitian BATAN
Pasar Jumat ini, dipercayakan memimpin kampus merah selama dua priode
(1973-1982). Banyak jasa dan prestasi yang ditorehkan Amiruddin saat
memimpin Unhas karena ketegasan, kesederhanaan, dan keteladanan. Dia
memindahkam, Rumah Sakit Pendidikan Unhas yang dulunya di RS Dady juga
ikut dipindahkan menjadi RSUP Dr Wahidin Sudirohusodo Tamalanrea.
Dedikasi yang diberikan oleh lelaki yang pernah menjadi Guru Besar ITB
dalam bidang Kimia ini tidak salah, ketika orang-orang disekitarnya
memberikan gelar sebagai guru maha guru.
Belum cukup satu tahun
setelah habisnya masa priode jabatan sebagai Rektor Universitas
Hasanuddin, lelaki yang mendapat gelar Doctor Honoris Causa dari
Universitas Kebangsaan Malaysia pada tahun 1976 kemudian maju dan
terpilih sebagai Gubernur Sulawesi Selatan. Ketika menjabat sebagai
Gubernur Sulawesi Selatan, pembangunan dimulai dari prinsip trilogi
pembangunan yaitu Perubahan Pola Pikir, Pengwilayahan Komoditas, dan
Petik Olah Jual. Konsep inilah yang membantu masyarakat Sulawesi Selatan
sehingga saat krisis moneter ditandai dengan melambungkan nilai kurs
dollar terhadap rupiah serta meroketnya harga-harga hasil pertanian
menjadikan masyarakat Sulsel justru tidak didera akibat krisis moneter.
Sebaliknya menuai hasil pertanian yang memadai.
Di eranya, ia banyak
menempatkan akademisi sebagai kepala daerah. Ia seorang pemimpin yang
dicintai rakyatnya. Sangat banyak maha karya yang telah dipersembahkan
kepada masyarakat. Visi dan karakter kerasnya bahkan mengilhami
keberhasilan banyak orang. Setiap kemarahannya mengandung hikmah
tersendiri terhadap orang lain. Banyak tokoh Sulsel yang kini berperan
vital di pemerintahan pernah merasakan kemarahan sosok yang dijuluki
Sang Restorasi ini. Sebut saja, Yusuf Kalla, Syahrul Yasin Limpo, Malkan
Amin, hingga Prof Halide yang pernah merasakannya. Pengabdian,
dedikasi, dan pelayanan terhadap rakyat Indonesia, sehingga Presiden RI
atas nama Rakyat Indonesia memberikan penghargaan Bintang Mahaputra
Utama, sebuah pengakuan tertinggi atas pencapaian seorang anggota
masyarakat sipil. Sepanjang hayatnya sebagian besar dijadikan sebagai
lahan pengabdian untuk umat manusia.
Saat memimpin Sulawesi
Selatan, Amiruddin pulalah yang memindahkan Kantor Gubernur Sulawesi
Selatan dari Jalan Jenderal A.Yani di pusat kota yang sesak ke Jalan
Urip Sumoharjo, di atas bekas pekuburan Tionghoa Makassar. Selain itu,
Benteng Somba Opu yang terkubur hamper 300 tahun kembali direstorasi
dengan komandan proyek Dr.Mukhlis Paeni. Amiruddin menghajatkan kawasan
benteng itu dijadikan sebagai Taman Mini Sulawesi, namun yang terwujud
barulah sebagai Taman Mini Sulawesi Selatan. Sejumlah rumah adat dari
seluruh kabupaten dan kota dibangun di kawasan benteng tersebut. Namun
sayang, seiring dengan perkembangan otonomi dan demokrasi di Indonesia,
rumah-rumah yang pernah digagas Amiruddin itu kurang terpelihara.
Lelaki yang senang mengenakan kaos swan putih ini, selain memiliki sikap
yang tegas, ia juga toleran terhadap setiap kamu, baik itu laki-laki
maupun perempuan. Hal ini terbukti ketika dalam peluncuran buku kiprah
Rasdianah di IAIN Makassar, Amiruddin menujukkan sikap demokrasi dan
emansipasi ke kaum hawa. Saat Rasdiyanah akan menjabat Rektor wanita di
kampus Islam pertama di Indonesia, banyak tokoh yang menentang.
Kepemimpinan Andi Rasdiyanah mendapat kontroversi, lelaki yang mendapat
penghargaan Satyalancana Pembangunan (Pertanian) yang waktu itu menjabat
sebagai gubernur dan mantan rektor harus bersikap dan menetapkan
keputusan secara arif. “Bagi saya, pria dan wanita diciptakan Tuhan
dengan kodrat dan keistimewaan masing," begitu Prof. Amir memberi
testimoni dukungan hingga Prof. Rasdianah menjadi Rektor dua periode dan
Sekjen Depag di Jakarta.
Pengabdian, dedikasi, dan pelayanan
terhadap rakyat Indonesia, sehingga Presiden RI atas nama Rakyat
Indonesia memberikan penghargaan Bintang Mahaputra Utama, sebuah
pengakuan tertinggi atas pencapaian seorang anggota masyarakat sipil.
Sepanjang hayatnya, lelaki yang bergelar Ph.D ini, sebagian besar
dijadikan sebagai lahan pengabdian untuk umat manusia. Sehingga
masyarakat Sulawesi Selatan mempercayakannya untuk menjadi Gubernur
selama dua priode (1983-1993). Selain jabatan Rektor dan Gubernur yang
diembannya, ada banyak jabatan lain yang telah menjadi jenjang karirnya.
Di almamaternya, Amiruddin pernah menjabat Asisten Kandidat Kimia
Organik dan Fisika,Universitas Indonesia Bandung pada tahun 1958-1963).
Sekretaris Bagian Kimia ITB 1961-1962, Asisten Ahli Kimia Anorganik dan
Fisika di tempat yang sama antara tahun 1962-1963. Lektor Muda ITB
(1962-1963), Lekor dan Lektor Kepala ITB (1963-1967). Ketua Bagian Kimia
ITB (1961-1962), Dekan Departemen Kimia Biologi ITB (1965-1966), Kepala
Lab Radio Kimia Pusat Reaktor Bandung (1965), Pembantu Khusus Dirjen
Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) Pasar Jumat (1965-1970), Tenaga Ahli
Diperbantukan kepada Pemerintah Malaysia dalam rangka Pembukaan
Universiti Kebangsaan Malaysia (1970-1973), Anggota MPR RI (1977-1980),
Deputi Ketua BPPT Bidang Ilmu Dasar dan Terapan, Wakil Ketua MPR RI
(1992-1997), Wakil Ketua Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional (BPPN
(1998-1997), Komisaris PT Inco Tbk, Komisaris, Komisaris Utama PT Semen
Tonasa, Komisaris PT GMTD.
Jatuh bangun, pahit manis, dan asam
manisnya kehidupan sudah dilalui oleh lelaki yang beristri dua ini. Apa
saja lakon telah ia perankan, baik itu sebagai seorang ilmuwan,
akademisi maupun birokrat, semua dijalankan dengan penuh tanggung jawab
dan menuai kesuksesan. Akan tetapi, setiap manusia memiliki titik
kemasimalan dalam berbuat. Tidak selamanya manusia akan berada dalam
kondisi tubuh yang segar bugar, adakalanya kesehatan kian hari akan
berkurang. Begitulah yang di alami lelaki yang berumur 81 tahun ini.
Pada tanggal 16 Maret 2014 Serangan jantung yang menggorogoti tubuh ahli
kimia nuklir ini mengaharuskannya untuk dirawat di RS Awal Bross
Makassar. Pada awalnya, tim dokter yang terdiri atas anak didiknya di
Universitas Hasanuddin, merencanakan membawa ayah empat anak itu ke
Jakarta. Namun mengingat kondisinya yang agak payah, diputuskan untuk
melakukan operasi by pass di RSUP Wahidin Sudirohusodo pada tanggal 19
Maret 2014. Empat dokter dari RS Jantung Harapan Kita Jakarta bergabung
dalam suatu tim yang berkekuatan 20 orang guna menolong jiwa pendekat
‘’’Tri Konsep Sulawesi Selatan’’ itu.
Namun setelah operasi jantung,
kondisi kesehatan peletak dasar ekonomi modern di Sulsel itu sempat
membaik, namun sehari kemudian kondisinya terus mengalami penurunan
hingga menghembuskan nafas terakhirnya di ruang ICU RS Wahidin sekitar
pukul 12.30 pada Jumat 21 Maret 2014 dengan usia menjelang 82 tahun.
Tidak bisa dipungkiri bahwa kematian merupakan sesuatu yang pasti, namun
kematian tetap saja meninggalkan duka bagi mereka yang ditinggalkan.
Setelah sekian lama melawan penyakit pengapuran pembuluh darah jantung,
mantan Gubernur Sulsel, Prof. Ahmad Amiruddin dijemput maut. Sosok yang
dikenal sederhana dan visioner itu meninggalkan empat anak,
masing-masing Amelia Tristiana, Doddy Krisbianto, Irma Herlina, dan Budi
Adiseno serta 12 cucu. Rumah duka di Jalan Hertasning Makassar penuh
sesak. Sesekali isak tangis terdengar. Sanak keluarga, kerabat, seluruh
sahabat hingga masyarakat umum berlomba hadir melepas kepergian sosok
panutan ini. Begitu banyak doa yang terkirim ke langit hari itu.
Terlihat begitu banyak kalangan yang memadati rumah duka. Ada Yusuf
Kalla, M Roem, Ashabul Kahfi, Ilham Arief Sirajuddin, dan Danny Pomanto,
Idrus Paturusi, Hamid Paddu, dan Syaruddin Kaseng.
Hadir juga HZB
Palaguna, Amin Syam, Appiaty Kamaluddin, Arqam Azikin, Jayadi Nas, Agus
Arifin Numang, Aksa Mahmud, dan masih banyak lainnya. Hari itu Sulsel
memang tengah berduka. Duka atas kepergiannya memang bukan semata milik
keluarga yang ditinggal. Nama baik dan karya almarhum telah menguratkan
namanya sebagai putra terbaik yang pernah dimiliki Sulawesi Selatan.
Keluarga pun harus ikhlas menjadikan duka mereka sebagai duka bersama.
Duka Sulsel. Hal ini membuat keluarga lagi-lagi harus merelakan seluruh
prosesi almarhum menuju rumah Tuhan, diambil alih oleh Pemprov Sulsel
dan Kodam VII Wirabuana.
Ribuan pelayat bergerak bersama
meninggalkan rumah duka menuju Masjid HM Asyik di Jalan Pettarani untuk
salat jenazah. Setelah itu, ribuan pelayat yang sama kembali bergerak
bersama. Kali ini untuk mengantar jenazah almarhum ke TPU Islam
Panaikang. Jarum jam menunjukkan pukul 14.15 Wita ketika dentuman peluru
berkali-kali pecah di udara. Kepergian pria kelahiran Wajo itu dilepas
dengan pemakaman secara militer. Kecintaan almarhum pada sang istri yang
lebih dulu kembali ke rumah Tuhan membuat niat pemerintah dan sejumlah
sesepuh di Sulsel yang merekomendasikan almarhun dimakamkan di Taman
Makam Pahlawan (TMP) Panaikang, tak bisa terwujud. Hal ini disebabkan
karena adanya wasiat almarhum untuk dimakamkan di dekat kuburan istrinya
Hj. Kusudarsini.Akhir kisah almarhum telah dititihkan dalam tulisan
yang indah, kisah hariannya sudah sampai pada lembaran terakhir. Selamat
jalan sang visioner sejati, masyarakat Sulsel kehilanganmu tetapi Yang
Maha lebih membutuhkanmu untuk kembali menghadapnya. Selamat jalan Sang
Maha Guru, semoga engkau tenang dikeabadiannya. Amin!!!
Makassar, 1 April 2014
Penulis,
Anaruddin